Arsip untuk Juli, 2013

Kekuatan agregat akan berpengaruh pada kekuatan beton, artinya agregat yang lemah tidak akan menghasilkan beton yang kuat dan untuk membuat beton dengan kekuatan tinggi harus menggunakan agregat yang kekuatannya tinggi pula. Kekuatan dan elastisitas agregat, tergantung dari : jenis batuan, susunan mineral, tekstur batuan, atau kristal batuan.

Untuk mengukur kekuatan batuan sebagai agregat dipergunakan cara pendekatan dengan  penguji kekuatan tekan batuan sampai hancur dengan bentuk kubus dengan sisi 50mm atau silinder diameter 25mm atau 50 mm dan tinggi 2 kali diameter benda uji.

Dalam pengujian kekuatan agregat untuk beton ini, terdapat beberapa cara dan istilah yang dipergunakan oleh beberap (lebih…)

Sifat Kimiawi dan Sifat Fisik Aggregat

Sifat Kimiawi

Sifat kimiwai relatif sangat penting dalam bahan perkerasan.  Dalam campuran asphal hot mix, sifat kimia pada permukaan agregat dapat menentukan seberapa baik bahan pengikat aspal semen akan mematuhi permukaan agregat. Ketidakpatuhan, sering disebut sebagai  pengupasan , dapat menyebabkan kegagalan prematur struktural. Pada campuran semen portland, agregat mengandung bentuk reaktif dari silika dapat bereaksi dengan alkali ekspansif yang terkandung dalam pasta semen. Perluasan ini dapat menyebabkan retak,  permukaan keropos dan spalling.  Jika diperhatikan bahwa beberapa sifat kimia agregat dapat berubah dari waktu ke waktu, terutama setelah agregat penghancur. Sebuah agregat baru hancur mungkin menampilkan afinitas yang berbeda untuk air dari agregat yang sama yang telah hancur dan ditinggalkan dalam persediaan selama satu tahun.

Meskipun perpindahan dari aspal pada permukaan partikel agregat dengan air (stripping) adalah sebuah fenomena kompleks dan belum sepenuhnya dipahami, komposisi kimia agregat telah ditetapkan sebagai faktor-faktor penting . Secara umum, beberapa agregat memiliki afinitas untuk air di atas aspal (hidrofilik). Agregat ini cenderung asam dan menderita dari pengupasan setelah terpapar air.  Di sisi lain, beberapa agregat memiliki afinitas untuk aspal di atas air (hidrofobik).   Agregat ini cenderung dasar dan tidak menderita masalah pengupasan.   Selain itu, muatan permukaan suatu agregat ketika kontak dengan air akan mempengaruhi adhesi untuk semen aspal dan kerentanan terhadap kelembaban .  Singkatnya, kimia permukaan agregat tampaknya menjadi faktor penting dalam pengupasan.   Namun, khusus hubungan sebab-akibat masih sedang dibangun. (lebih…)

1. Agregat Berat

Adalah jenis agregat yang dibuat beton dengan berat isi lebih besar dari 2400 kg/m3. Tujuan dipakai beton berat untuk mendapat beton yang berat isinya lebih besar karena kegunaanya untuk menahan radiasi yang membahayakan manusia.

Untuk membuat beton dengan berat isi tinggi biasanya dipakai batu Barite (BaSO4), berat isi : 4,15 -4,45  t/m3 ; Bijih besi (Magnetite atau Lemonite), berat isi : 4,40 – 5,00 t/m3 ; Butiran atau potongan besi/baja, berat isi : 6,80 – 7,60 t/m3

Membuat beton dengan agregat berat, dengan kecelakaan ( Workability ) yang diingkan biasanya mengalami kesukaran, karena perbedaan berat jenis dengan semen, Berat jenis agregat berat jauh lebih besar dari pada semen. Jika ingin mengurangi adanya segregasi, dapat diusahakan dengan menggunakan air seminimal mungkin agar beton dapat dikerjakan tanpa adanya segregasi.

2. Agergat Normal

Agregat normal adalah jenis agregat yang dapat dibuat beton dengan berat isi antara 1800- 2500 kg/m3. Tujuan dipakai agregat normal adalah untuk membuat beton dengan tanpa persyaratan khusus.

Agregat yang dipakai umumnya merupakan batuan yang padat dan kompak dari jenis batuan beku, batuan endapan ( sedimen ) dan batuan malihan ( metamorphosa ).

3. Agregat Ringan

Agregat ringan adalah jenis agregat yang dapat dibuat beton dengan berat isi antara 300 – 1800 kg/m3. Tujuan dipakai agregat ringan adalah untuk pembuatan beton dengan tujuan khusus.

Agregat yang digunakan misalnya batu tulis, lempung yang membengkah (expanded clay), terak pecah, tanah foamed, batu apung dan lain sebagainya.